Me and My Childhood Love

Kalau dihitung-hitung, udah hampir dua bulan gue nganggur di rumah selama liburan semester.

Gue inget banget awal-awal liburan gue kayak orang linglung. Bingung mau ngapain. Terlalu terbiasa hidup dalam tekanan selama kuliah, jadi pas sekalinya liburan yang bener-bener kosong tanpa beban apa-apa jadinya kayak orang ngawang. Buntut-buntutnya mood jadi berantakan, bawaan ribut sama orang rumah, daan seterusnya. Ya, kadang gue jalan sama temen sih, cuma itu bisa dihitung dengan jari. Karena jalan-jalan sama dengan pengeluaran, sama dengan tabungan menipis (padahal ngga ada pemasukan), sama dengan kemelaratan. Dua minggu pertama liburan gue berlalu ibaratkan daun kering yang ditiup angin. Belum apa-apa, gue udah mendeklarasikan diri jamuran. Koleksi DVD banyak, koleksi buku banyak, internet ada di rumah — mau nonton TV 24 jam, baca buku sampai bola mata copot, online sampai komputer jebol, semua entertainment yang biasanya selalu menghantui gue selama kuliah tiba-tiba jadi ngga seru sama sekali. Mau nonton, bosan. Mau baca, udah hafal ceritanya. Mau online, mager banget duduk depan komputer. Diam-diam gue takut bakal kena serangan mematikan penyakit bosan akut.

Sampai pada suatu sore, hidup gue terselamatkan dari ancaman penyakit jejadian tersebut. Gue lagi termangu-mangu di depan lemari buku, melototin jejeran novel-novel koleksi dari jaman SD, mencari novel mana yang kira-kira sanggup menaikkan lagi semangat selama liburan, ketika mata gue terpaku pada tujuh buku rupawan yang menempati tempat kehormatan di bagian paling depan lemari buku tersebut. Tujuh buku tersebut, kalau mau dibilang, adalah simbol utama lemari buku tersebut. Leluhur dari sekian banyak koleksi yang lain. Buku-buku garda depan. Buku-buku yang tiap halamannya udah terlalu sering gue balik, gue baca, bahkan nemenin gue tidur sampai dekil, lecek, cenderung keriting (apalagi di masa-masa SD saat gue sama sekali ngga bisa ngerawat buku). Setiap buku, setiap habis dibeli, pasti akan langsung gue lahap dengan khusuk tiap halamannya ibarat orang belum makan seminggu, ngga peduli waktu, ngga peduli lingkungan, dan biasanya selalu diiringi konflik batin macam ini,

“Aduh, udah jam segini.. tapi tanggung.. satu bab lagi, deh… hmm, satu bab lagi.. satu bab lagi… *nguap* udah jam empat.. satu bab lagi…”

dan biasanya perang batin ini akan berlangsung sampai bokap keluar kamar untuk sholat subuh dan gue masih aja berkutat sama halaman demi halamannya.

Buku-buku garda depan itu: Harry Potter 1-7 plus suplemennya

TA-DA!

Jadilah liburan gue kali ini diisi dengan, tak lain dan tak bukan, membaca ulang dan menonton ulang (LAGI), seri favorit yang rasanya udah nempel banget di hidup gue ini.

Jangan tanya, gue dapet banyak banget komentar. Bukan keluhan juga sih, cuma rata-rata mengomentari kegilaan gue sama Harry Potter. Salah satu temen gereja gue bilang,

“Sumpah, Dhee. Tiap kali buka Twitter dan liat tweet lo, pasti isinya soal Harpot mulu. Penasaran gue. Udah kayak ganja ya, bo?”

For the record, gue sama sekali ngga ngerasa tersinggung. Dan buat kalian yang bertanya-tanya kenapa gue sampai segitu cintanya sama seri tersebut, gue cuma punya satu jawaban.

Harry Potter IS my childhood. :)

Continue reading

James McAvoy: The Undying Love

Oke, mungkin undying love agak terlalu berat. Dan serem, apalagi mengingat ini berkaitan dengan kebiasaan gue sebagai fan girl. But seriously. Dilihat dari taraf seorang fan girl, I have this undying love for:

James McAvoy. *gelindingan*

Hal ini baru gue sadari setelah melewati lima jam yang sangat produktif gelindingan depan TV sambil nonton X-Men: First Class. Kenapa sampai lima jam gue nontonnya, sedangkan film itu sendiri berdurasi ngga lebih dari dua jam?

Karena gue kelewat hiper begitu pertama kali selesai nonton, dan belum juga itu credit title beres nongol di layar kaca, langsung gue ulang lagi nonton dari awal.

I could watch this all day.

Balada Anak Minyak Sebatang Kara Kala Mengurus KRS

Nyokap Bokap gue hilang 3 hari.

Okeh, line pertama agak kontroversial, ya. Gue yakin saat ini kalian pasti sedang memikirkan tiga kemungkinan penyebab menghilangnya kedua orangtua gue ini.

Kemungkinan pertama

Voldemort (or should I say, The Dark Lord? *digeplak pembaca*) ternyata selama ini aware akan tweets gue. Dia dan rombongan Death Eatersnya nyamperin rumah gue, berusaha membujuk gue untuk ikut gabung. Tapi gue terlalu loyal sama Order of the Phoenix dan, especially, Dumbledore’s Army, jadi gue menolak mentah-mentah. Karena ngga terima, akhirnya mereka memutuskan untuk menculik kedua orangtua gue supaya gue berubah pikiran. Rumah gue ditinggalkan dengan Dark Mark gelantungan di atasnya. In the mean while, gue dan para anggota Order of the Phoenix (termasuk juga Dumbledore’s Army) menyusun rencana untuk menyelamatkan kedua orangtua gue.

Kemungkinan kedua

Nyokap gue sedang bahu membahu bersama Gandalf berperang melawan Balrog, demon of the deep, yang dilingkari oleh bayangan dan api. Mean while, my Daddy is taking the hobbits to Isengard!

Kemungkinan ketiga

Mereka berdua sedang berada di alam bawah sadar masing-masing karena keasikan bereksperimen dengan konsep “a dream within a dream”. Ibaratkan Mal dan Dom yang hidup sampai kakek-nenek di alam bawah sadar mereka dan membangun sebuah kota (architecture of the mind), itulah yang sedang dialami kedua orangtua gue.

Well, itu adalah 3 kemungkinan yang menyanjung hati, jiwa, dan raga, serta cukup masuk akal.

….in my dreams, people.

Sebenernya kedua orangtua gue itu hilang selama 3 hari dalam rangka ke Palembang. Ceritanya kan bokap gue dipindahtugaskan ke Palembang untuk beberapa bulan (atau mungkin setahun) ke depan. Jadi, sebagai seorang istri yang baik, nyokap gue menemani sang suami menyesuaikan diri di lingkungan baru selama 3 hari. Jadi lagi, gue sama Kakak gue ditinggalkan home alone selama 3 hari.

Sweet!

…yang ngga sweet adalah fakta bahwa 3 hari itu adalah saat-saat gue paling dipusingkan sama yang namanya slip bayaran dan KRS.

For the record, dari dulu gue paling eneg sama yang namanya ngurusin KRS. Cape jiwa raga, deh. Ngurusin bayarannya sih gampang, tinggal nodong bokap. Lah, KRS-nya itu yang ngeselinnya setengah jiwa. Nungguin jadwal keluarnya aja udah mengetes emosi, belum lagi harus menyesuaikan biar dapet dosen enak dan ngga bentrok sana-sini. Khusus gue, harus juga menyesuaikan diri dengan hari Sabat. Dan berdoa supaya dapet dosen yang pengertian kalau gue dapet ujian hari Sabat.

Yang paling bikin gue enek…. rebutan kelas.

Urusan ini tuh ajaib banget. Detik pertama lo memasuki menu centang-menyentang mata kuliah dan disodorkan jadwal kelas-kelas, lo akan melihat kapasitas kelas yang masih kosong. Di beberapa jam awal saat lo sedang berpikir sambil memperhatikan jadwal plus nama dosen di lembar fotokopian yang ada di tangan lo, dan lo refresh, kelas-kelas tersebut tiba-tiba udah terisi sebagian. Ngga nyampe setengah jam kemudian, tiba-tiba udah pada full.

Ngokk -__-

Continue reading

A Thirty Minutes to Midnight Note

11.30 PM

Hello there,

This note is written thirty minutes to midnight. I should have been long asleep. I’ve been lying in my bed for about an hour, yet I can’t sleep. I have even played my favorite lullaby for the fifth time, and I still don’t feel sleepy yet. I am not normally like this. It’s like my body refuses to rest, though it’s already sending signals of weariness. On second thought, perhaps it is my mind, which refuses to stop thinking. Thinking about what, for good I couldn’t quite figure out. But now, as I am typing this, something whispers that it — well, it is you.

But how can it possibly be you? I don’t know why it was you appearing out of nowhere as the main reason of me not being able to sleep. Come to think about it, I don’t even know why the thought of you is able to bother my sleep in the first place. From 8 billion people in the whole world, it is you the very person my subconscious chooses to blame for this sleepless night.

The first time we met, I never thought you would have been of such importance in my life. The first time we met, I never expected that the vague picture of your face would have been the one I try to make in the darkness of the night, right before I fall asleep. That your voice would have been the one I am longing to hear in the silence of the night. That in every song I sing, you’re the one who comes into mind. That in every prayer I make, it is your name that I whisper relentlessly. That every move you make, every conversation we got to have, are the most effective things to bring a smile upon my face. How that every night, while waiting for sleep to come, I wish you would be lying here next to me.

You are the spring of my life. When spring comes, the plants are blossoming and animals are awaken from their deep slumber. Everything that has been white and icy cold turns to life again. As if nature is dressed in a beautiful gown of many colors. Just like that; when you come into my life, everything seems to be blossoming. I am alive again. And I have no one else to thank, besides you.

*yawns*

I think sleep finally cares to visit me. It just pats my back. I am going to close my eyes again, hoping that though it is your face that I will once again make in the darkness, it will be the one to accompany me to a peaceful sleep. And your voice, the very lullaby I long to hear to bring me to a tender sleep.

Good night.

And may you always be blessed.

xx

Mission Christmas Cookie #1

………….Chocolate Frog with Peanut Butter!

Atau, lebih tepat kalau kita sebut Chocolate Square with Peanut Butter. :P

Jadi begini, kawan. Berhubung gue sudah pengalaman dari tahun ke tahun bahwa Christmas/New Year break biasanya menjadi saat bermalas-malasan yang awalnya menyenangkan, namun kelamaan membosankan, gue memutuskan untuk menyibukkan diri gue sendiri. Dua tahun belakangan ini cara gue adalah dengan menetapkan film-film Natal wajib tonton. Tapi tetep berasa kurang efektif. Kenapa? Karena nyokap tetep aja nyap-nyap ngga seneng bener ngeliat aktivitas gue yang kebanyakan nongkrong depan TV daripada bergerak.

Sekitar sebulan yang lalu, sebagai seorang Potter geek sejati, gue iseng menjelajahi sebuah situs khusus Harry Potter, yaitu MuggleNet. Di situs tersebut, ada satu page yang berkaitan dengan resep-resep masakan khas dunia Harry Potter. Kita semua tahu, dong, (terutama yang Potter geek sejati kayak gue *menitikkan air mata haru* *disambit pembaca*) kalau di dunia sihirnya J. K. Rowling ada berbagai resep yang biarpun cuma dibaca udah sanggup bikin ngiler dan bikin kita penasaran gimana sih rasanya. Chocolate Frog, Licorice Wands, Pumpkin Pasties, Butterbeer, Mulled Mead, …to name a few! Nah, di page itu ada resep-resepnya. Malahan ada juga yang tambahan kreasi khas si empunya resep.

Soooo, that’s why another kerjaan gue di Christmas/New Year  break kali ini adalah mencoba resep-resep tersebut satu persatu!

Barusan aja gue sukses membuat Chocolate Frog yang pakai filling Peanut Butter. Namun berhubung oh berhubung gue ngga punya cetakan kodok (susah nyarinya, bo!), jadilah gue pake cetakan kotak-kotak biasa. Sebenernya gue punya cetakan khusus jelly atau puding yang bentuknya imut-imut pengen ditampol gitu, tapi entah udah nyungsep dimana itu cetakan. Maklum, itu punya gue jaman SD sampai awal SMP. Ngga tau deh sekarang udah tersesat dimana. Semoga ia menemukan jalannya kembali ke gue… *amin yaowoh*

Ngga lupa gue foto-foto selama bikin Chocolate Frog Square itu tadi. Tapi untuk suatu sebab musabab dan akibat, foto-foto tersebut akan gue upload beberapa jam kemudian, ya! Sekarang, gue akan melanjutkan film Natal wajib tonton gue. Apakah yang akan gue tonton sore ini?

…………….

*drum rolls*

*tirai dibuka*

HOME ALONE!!!!!!

*pembaca hening*

……….er, okay. :D

Home Alone itu film Natal wajib nonton gue dari jaman masih gelayutan di pundak bokap dan nyokap. Buat gue, belom Natal namanya kalo belum nonton itu. Jadi tolong dimaklumkan kegirangan gue yang berlebihan karena akan nonton film favorite gue itu. Hehe.

In the mean time, let’s take a look at the trailer!

Don’t know Home Alone?

Dude, are you seriously living in this generation? Kill yourself!

Love, Actually

Okay, I’m sorry!

Lebih dari seminggu, ya, gue tinggalin blog ini tanpa review salah satu dari deretan film Natal wajib tonton gue? School just got the best of me. And some having fun. :D

Harusnya sekarang yang akan gue review adalah Ghosts of Girlfriends Past. Akan tetapi, oh, akan tetapi di saat gue meraih DVD film tersebut, entah kenapa gue merasa……………. malas.

No offense, gue sama sekali ngga bilang film itu jelek. Not at all. Infact,  I do love Jennifer Garner’s emotion in it! It’s just that, gue udah nonton film ini waktu baru beli kurang dari 3 bulan yang lalu. Dan gue merasa bosan kalau harus nonton lagi. Jalan ceritanya rasanya masih fresh di otak gue.

Jadi kali ini yang akan gue review adalah Love, Actually. Salah satu all time fave romantic-comedy gue! Basically, di dalam satu film ini ada berbagai cerita. Mulai dari ceritanya British Prime Minister yang in love sama maid-nya (Hugh Grant dan Martine McCutcheon); heartbreak seorang istri yang tau suaminya punya affair (Emma Thompson dan Alan Rickman — ooh, look! Professor Snape and Trelawney are married! LMAO ;) ); kisah sweet but heartbreaking at the same time-nya *bittersweet kalee..* Juliet dan Mark (Keira Knightley dan I-dunno-who-that-hottie-name-is); sampai kisah yang amat sweet dari novelist yang lagi patah hati dan di saat lagi melarikan diri dari kehidupannya, dia malah jatuh cinta sama maid-nya yang asli Portuguese (Colin Firth and that beautiful Portuguese woman :) ); and many more!

Gue terinspirasi sama blog bertitel The Last Muggle, dimana si empunya blog ini menuliskan live detik-demi-detik pengalamannya saat nonton. Jadi, mungkin, gue akan meniru teladannya.

In the mean time, let’s take a look at the trailer.

Love, actually, is all around.

***

 

Basically, Love, Actually berisi sepuluh kisah berbeda, namun sesungguhnya masih saling bersangkutan. Dimulai dari 5 minggu sebelum Natal, dan maju terus perlahan-lahan sampai Christmas, lalu ditutup dengan epilogue sebulan kemudian di Heathrow Airport. Gue jabarin satu-satu di bawah ini berdasarkan order of appearance, ya.

Continue reading